Jumat, 30 November 2012

kejeniusan Al Biruni memadukan iptek dan humaniora

Kehadiran Al Biruni sebagai ilmuwan dari Abad Pertengahan dicatat dengan tinta emas dalam khazanah sejarah Islam. Sosok dan peran ilmuwan bernama lengkap Abu ar Raihani Muhammad ibnu Ahmad al Biruni ini sangat spektakuler. Ia mampu memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan humaniora secara komprehensif dan integral. Tak heran banyak pengamat menganggap Al Biruni benar-benar seorang jenius. Ia menghasilkan buah pikiran orisinal yang menjadi dasar-dasar pengembangan iptek dan humaniora di masa depan. Hidup antara tahun 973 – 1048, Al Biruni meninggalkan tanah kelahiran Khawarizmi (sekarang wilayah Turkmenistan) untuk mengembara ke Gazna (Afghanistan) dan India (waktu itu di bawah kekuasaan Dinasti Gaznawi). Hasil pengembaraannya dituangkan dalam buku “Kitabul Hind” (1017), yang berisi uraian tentang agama Hindu, sains dan adat istiadat India di Abad Pertengahan. Para ilmuwan sezaman menunjukkan kekaguman terhadap buku itu mengingat Al Biruni lebih dikenal sebagai astronom dari pada sejarawan, sosiolog atau antropolog. Melalui buku tersebut, Al Biruni membuktikan dirinya sebagai ilmuwan spesialis namun berpengetahuan amat holistik. “Kitabul Hind” memuat hal-hal yang bertalian dengan geografi, proyeksi cahaya, azimut bintang, perubahan ekologi lembah Sungai Indus, makhluk angkasa luar di bumi dan langit timur, anak kembar siam, dan juga teknik permainan catur yang digemari raja-raja India. Sejarah Zaman Purba Sebelum menulis “Kitabul Hind”, Al Biruni telah menulis buku khusus tentang sejarah bangsa-bangsa zaman purba berjudul “Al Ardhul Baqiyah anil Qurnil Khaliyah”. Bukunya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sejak Abad XIX menjadi “Chronology of Ancient Nations” (cetakan terbaru tahun 1993). Ia juga menulis buku astronomi yang dipersembahkan bagi Sultan Mas’ud al Gaznawi berjudul “Al Qanunul Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum” (1030), berisi laporan tentang seluk-beluk ilmu perbintangan. Buku lainnya disusun dalam bentuk tanya-jawab mengenai ilmu ukur, matematika, astronomi dan struktur ruang angkasa berjudul “At Tafhim fi Awa’il Sina’atit Tanjim”. Pendapat Al Biruni dalam buku tersebut benar-benar baru dan orisinal menurut ukuran zamannya sebab telah berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang masih diperdebatkan para ilmuwan, terutama mengenai perputaran bumi (rotasi), penetapan garis lintang (latitude), garis bujur (longitude) serta hipotesa-hipotesa tentang alam semesta yang bersifat relatif. Besar kemungkinan teori relativitas Einstein diilhami hipotesa-hipotesa Al Biruni. Ahli Batu Perhiasan Sebagai ilmuwan yang menguasai geologi, Al Biruni menulis berjilid-jilid buku tentang batu-batuan dan logam mulia. Ia menganalisis delapan belas jenis permata dari sudut pandang ekonomi, keindahan (estetika) dan moral (etika), dalam buku berjudul “Kitabul Jamahir Ma’rifatul Jawahir”. Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, penulis buku “The Dynamics of Islam” (1982), dengan bukunya itu Al Biruni menampakkan tiga dimensi kepribadiannya. Baik sebagai guru etika dan filsafat moral, sebagai ahli mineralogi dan batu mulia, serta sebagai penilai batu mulia yang mampu menghubungkan aspek manfaat, nilai ekonomi, dan peranan mata uang yang tak terpisahkan dari peran batu mulia. Hasil karya Al Biruni mencapai 180 judul, meliputi aneka masalah iptek dan humaniora. Tapi hanya sebagian yang tercatat dan terkumpulkan dalam bentuk manuskrip asli. Selain buku-buku yang sudah disebut di atas, ada pula buku-buku berjudul “Kitabusy Syahdalah (tentang farmakologi, pengobatan), “Tahdid Nihayatul Amakin” (Penentuan Koordinat Kota-Kota), “Kitabul Kusuf wal Khusuf ala Khayalul Hunud” (Pandangan orang India tentang gerhana matahari dan bulan), “Maqalid Ilmul Hay’ah” (Kunci Ilmu Astronomi), dan sebagainya. Karena berkiprah di Afghanistan, India, China, dan sekitarnya, Al Biruni dianggap sebagai Pembangun Ilmu Mazhab Timur yang menjadi mata rantai tak terpisahkan dari Ilmu Mahzab Barat yang berpusat di Baghdad. Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, konsep utama filsafat moral Al Biruni terkandung dalam teorinya tentang al Muruwwa (kebajikan) dan al Futtuwwa (keutamaan). Keduanya saling terkait. Kedua unsur penting ini terpancar dari anugerah Allah SWT kepada manusia lewat peran mineral emas dan perak. Kedua mineral berharga itu diciptakan Allah SWT untuk melengkapi dan memudahkan kehidupan ekonomi dan sosial manusia. Seseorang yang menumpuk dan menimbun emas perak sama dengan mengorbankan kepentingan banyak orang. Emas dan perak harus digunakan untuk kesejahteraan manusia dan negara. Sumbangan besar Al Biruni bagi iptek dan humaniora tidak diragukan lagi. Nama dan karyanya terus berkibar sepanjang zaman. Dipelajari dan dikembangkan menjadi dasar-dasar ilmu-ilmu baru yang mungkin sudah tidak lagi menonjolkan nama Al Biruni sebagai pemilik asal.

Sumber:http://www.sidoharjo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar